Sep 1, 2007

"KOPWAN TUAH GADONG": Pemberdayaan Kaum Perempuan diawali dari Gampong

Seminggu yang lalu disalah satu sudut Nanggroe Aceh tepatnya di Gampong Bireuen Meunasah tgk. Digadong Kec. kota Juang, gerakan pemberdayaan perempuan kembali bergerak, kali ini gerakannya diawali dengan peresmian Kantor Pusat Administrasi Koperasi Wanita Tuah Gadong. Sejak awal proses pendirian, koperasi ini memang banyak sekali tantangannya, salah satunya adalah pemahaman calon anggota terhadap konsep koperasi yang sebenarnya. Namun berkat kerja keras para pengurus (Saridah, Nurhaida dan Desliana) Koperasi ini telah berhasil melewati tantangan demi tantangan hingga mampu meresmikan sekretariatnya. Sisi lain yang menarik adalah koperasi ini dibentuk bukan karena adanya iming-iming bantuan dari pihak luar yang akan masuk, melainkan semangat memberdayakan diri, kebersamaan dan membagun usaha yang produktif untuk peningkatan kesejahteraan anggota (Perempuan). Semua pihak patut memberikan apresiasi terhadap Koperasi ini yang diharapkan menjadi contoh bagi kelompok perempuan lain ini di gampong-gampong lain.

KEJUJURAN


Hidup ini memang penuh dengan lika-liku. Dalam perjalanannya kita selalu dihadapkan oleh berbagai pilihan. Diantara berbagai pilihan tersebut adalah JUJUR, Jujur menurut saya menjadi kunci dalam menghadapi berbagai persoalan. Pilah berkata jujur memang kadangkala agak sulit dipraktekkan. Entah kenapa selama ini kalo orang yang berkata jujur selalu dianggap sebaliknya, demikian juga sebaliknya. Namun kita sebagai ummat Muhammad SAW sudah selayaknya menjadikan jujur sebagai start dalam melakukan sesuatu. Jujur kepada diri sendiri, orang lain, lingkungan dan Allah SWT pada dasarnya adalah kebutuhan jiwa manusia. Tinggal kita bagaimana memprakatekkannya saja. Kejujuruan adalah kebutuhan jiwa, sementara getarannya tergantung pada tingkat keikhlasan.

May 21, 2007

Suatu Hari di Inspirit Learning Centre

Ditengah padatnya rutinitas pekerjaan kita perlu merencanakan untuk mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi

Apr 20, 2007

MODAL

"Kalau kita ingin sukses, kita harus memiliki modal", itulah kalimat yang sering kita dengar dari berbagai orang yang diajak diskusi untuk merencanakan sukses, baik diri sendiri, organisasi, maupun komunitas. Bicara modal, mainstream orang cendrung pada uang (money), namun menurut saya bicara modal uang hanyalah salah satu komponennya. Kalau kita merujuk ke unsur manajemen 5 M(Man, Money, Material, Machine & Method), jelas uang tidak bisa berbuat banyak tanpa 4 unsur lainya. Artinya modal itu tidak harus uang, bukankah akuntansi juga mengakui adanya aktiva tidak berwujud? Aktiva tidak berwujud bisa jadi brand, metode, hak cipta, goodwill dan lainnya yang dianggap memiliki pengaruh besar bagi kelangsungan organisasi.

Apr 9, 2007

SALAH SATU SESI DI TRAINING KEUANGAN UNTUK ANGGOTA BSUIA 30 MARET - 01 APRIL 2007

Mar 2, 2007

LUAR BIASA

Ketika berangkat kerja, seperti biasa saya singgah di warung kopi, maklum untuk kita2 yang masih jomblo harus sarapan di warkop, tanpa disengaja saya ketemu dengan teman yang telah lama tak berjumpa. saya ketemu dia ketika saya masih bekerja di forum LSM Aceh.

Yang dia tanyakan pertama kali kepada saya adalah bagaimana membuat LSM.,,, Sayapun terheran, yang seperti sudah banyak saya temui apalagi sekarang ini lagi demam LSM, .....

Kami pun berdiskusi panjang ttg LSM, saya pun menyampaikan bahwa sekarang saya tidak lagi di forum LSM Aceh melainkan di IMPACT. dia juga agak terkejut ketika saya menyebutkan jabatan di IMPACT. Katanya " Kok itu2 aja sih?"

Lantas saya berceritalah tentang apa itu IMPACT dan untuk apa saya di IMPACT + web http://www.impactaceh.org/ . jurus yang saya perkenalkan kali ini adalah vibrant, karena teringat tentang pengalaman mas dani memperkenalkan vibrant teaching, yang kebetulan teman saya ini adalah guru SMA di kawasan Aceh Utara. Nampaknya dia tertarik, dan dia menawarkan diri untuk jadi peserta training vibrant kalau dilaksanakan oleh IMPACT.

Disini pula saya hanya memberi harapan... kira2 bulan april lah....

Disela2 itu juga kami mendiskusikan bagaimana cara meningkatkat mutu guru melalui vibrant teaching...
Dia berjanji akan berkonsultasi lebih lanjut mengenai hal ini, karena di juga punya lembaga yang didirikan oleh para guru.

Mudah2an.....

Feb 3, 2007

PENGHARGAAN


SETIAP INSAN BUTUH PENGHARGAAN
MAKA HARGAILAH PENGHARGAAN ITU DENGAN WAJAR

Kejujuran dan Keikhlasan


Kejujuran pada dasarnya adalah kebutuhan jiwa manusia yang paling hakiki. Setiap insan selalu ingin jujur, baik bagi diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Namun hari ini seperti asing bagi masyarakat kita kalo ada yang membahas persoalan kejujuran. lihat saja reaksi masyarakat terhadap PP 37/2006 tentang tunjangan bagi anggota DPRD. Disatu sisi kita menuntut para anggota dewan untuk berprilaku jujur, peduli konstituen, dermawan dsb, sementara disisi yang lain kita seolah2 tidak sepakat dengan besarnya hak yang diberi pemerintah kepada meraka. Fakta dilapangan setiap anggota dewan pasti mengeluarkan biaya yang lumayan besar untuk biaya kepedulian, seperti sumbangan untuk kegiatan mahasiswa, ormas, partai politik sampai kepada memenuhi janji kepada masyarakat dan tim suksesnya. Secara realitas gaji yang mereka terima tidak cukup untuk membiayai kebutuhan tsb belum lagi kebutuhan keluarganya. jadi dari mana juga sumber pendanaan mereka???. sementara kalo ada anggota dewan yang agak kecil koefisien kedermawanannya selalu dicap dengan berbagai lebel negatif. menurut hemat saya ini sama saja mendorong anggota dewan untuk menjadi calo proyek...

Nah disinilah kita harus melihat secara jujur, bahwa anggota dewan itu juga manusia.. kejujuran anggota dewan mengungkapkan hati nuraninya secara jujur adalah hal yang palingkita tunggu termasuk pengeluarannya per bulan... kalau setiap anggota dewan mempublikasikan laporan keuangan pribadi bulanannya mungkita akan melihat PP 37 adalah sebagai solusi.

Persoalan ini kembali kepada tingkat kejujuran kita masing2... kejujuran pun belum cukup kalau belum diiringi oleh keikhlasan... karena kejujuran itu adalah kebutuhan jiwa, getarannya ditentukan oleh tingkat keikhlasan kita....

Nov 10, 2006

SOLIDARITAS ACEH DI GAMPONG GLOBAL

OLEH: RIDWAN H MUKHTAR

Dua kali limong sikureueng, Dalam ruweueng na sa.
Bloe siplôh publoe sikureueng,Dalam ruweueng na laba.
( Dua kali lima sembilan, Dalam ruang ada Satu, Beli sepuluh jual sembilan, Dalam ruang ada laba )

Taprang kaphè bela agama,Usèe peunjajah Beulanda ngon Jipang.
Aneuk tapangkèe keumun tabina, Ureueng ranto tapeutimang
( Perangi kafir membela agama, Mengusir penjajah Belanda dan Jepang Anak dipangku kemenakan dibimbing, Orang perantau dilayani )

[ I ]
Ini hanya catatan singkat pengantar dari diskusi. Karena catatan, maka banyak hal yang tak memuaskan, dan umum adanya. Maja diatas mengindikasi perilaku hidup: Keuntungan dan kebaikan, menegakkan kebaikan ( amar ma’ruf ) dengan memberi kompensasi ( amal ) pada hamba sahaya, seumando, ureung rantoe, ureung leung jaroe, keu wareeh lingka.

Solidaritas Aceh yang berazas pada tata nilai. Solidaritas kata yang terpecah dari ukhuwah, tauhid, rabithah. Solidaritas menghendaki pada kepedulian, persatuan. Secara bahasa pengertiannya tentu sangat terbatas. Museuraya ( bergotong royong ) atas satu pekerjaan merupakan budaya baik. Meuseuraya, pada waktu tertentu melambangkan kesatuan, padu pada suatu media/objek yang dituju, dipindahkan, dicapai: Meuseuraya bak peugoet rumoh ( Rumoh Aceh/di Aceh ). Meuseuraya, bukan bertujuan memberatkan, sebaliknya untuk meringankan suatu pekerjaan, beban, penderitaan orang lain ( individu, kelompok, komunal/gampong,idiologi, maupun teologi,rumpun-tertentu ). Nah, yang seperti ini dikatakan: Solidaritas untuk kebaikan, kemaslahatan.

Seperti halnya dengan apa yang sudah dilakukan para pejuang jihad disabilillah dalam mengusir kafe belanda dahulu kala di Aceh. Karena rentang perang tiga abad lebih, maka solidaritas untuk melakukan perlawanan jelas atas dasar tiologi dan idiologi. Seperti halnya Perlawanan rakyat palestina terhadap israel. Dampak dari penegakan amar ma’ruf menghasilkan solidaritas dibelahan dunia lain. Tingkatan solidaritas dalam ujud kadarnya tergantung pada rasa, merasakan penderitaan, dan sikpa konsistensi para pejuangnya. Semakin lama perlawanan, perjuangan atas dasar kebenaran, maka solidaritas itu akan memperpanjang ’nafas’ para pejuangnya. Solidaritas semacam ini, apalagi didukung oleh kebijakan negara maka ’nafas’ para pejuangnya akan ’berenergi’ dan ’bergizi’ secara padu dengan generasi selanjutnya. Selebihnya dikenang pada hari tertentu, dicatat dalam lembar sejarah.

[ 2 ]
Dan dengan seperti itu, maka agak teranglah pemahaman anda: Solidaritas itu bisa saja dihubungkan kemana saja: Atas nama perjuangan akan keyakinan, aliran, mazhab, adat/tradisi. Selebihnya kita mengenal trend solidaritas kemanusian: Lintas idiologi dan tiologi. Solidaritas kemanusiaan cenderung mengemuka pada waktu dan wilayah krisis. Individu atau kelompok yang ’terhukum’ dalam perspektif kemanusiaan mempunyai hak untuk diperlakukan secara manusiawi. Walaupun palu putusan sudah memutuskan salah karena melanggar tata tertib dan norma yang hidup dalam masyarakat dan berbangsa. Begitulah kira-kira. Artinya, solidaritas kemanusiaan, penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan berada pada tempat yang ’suci’ dan terpelihara. Kafir zimmi, bahkan anjing sekalipun tetap harus dilindungi hak-haknya. Maka solidaritas terhadap minoritas atas mayoritas menjadi ukuran peradaban suatu kaum. Tak terkecuali di Aceh, penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan menjadi diskursus. Kejahatan kemanusiaan menyebabkan solidaritas lintas negara. Bahkan menjadi solidaritas rakyat dengan rakyat ( people to people ) . Asumsi kenapa terjadi solidaritas, sangat berhubungan dengan kerentananan manusia yang kalah dengan benturan kekerasan akibat mobilisasi kekuatan rekayasa manusianya. Begitu juga dalam becana alam, manusia cenderung abai terhadap resiko, dan pasrah menerima akibat berlanjut: Ketidapastian hidup, dan ketidakpastian mendapatkan kebahagiaan, kenyamanan.

[ 3 ]

Pengantar selanjutnya, dengan satu soal: Bagaimanakah kita melihat filosofi solidaritas dalam perspektif kearifan budayanya?.

Dalam maja, sikap yang menunjukkan rasa peduli, sapeu padan, sapeu kheun, terbentuk dalam tradisi sosial dalam komunitas gampong. Karena menjadi maja, maka pelanggaran, sikap abai terhadapnya dianggap sikap meu-kota, cuek, dan tidak bermasyarakat. Secara sosial dan diatur dalam perangkat adat, sanksi pengabaian justru akan diberikan kepada sang pelanggar, misal: Tidak bersedia menghadiri undangan khenduri yang diadakan dirumah si pelanggar, dll.

Berikut diantara maja tersebut: Bakna neutèm peuleubèh bacut watèe keu gob, laèn Bak neutèm peuleubèh bacut pikiran keu gob laèn. Bak neutèm peuleubèh bacut teunaga keu gob laèn, Bak neutèm peuleubèh bacut hareuta keu gob laèn.

[ 3 ]

Kembali ke tema: SOLIDARITAS ACEH DI GAMPONG GLOBAL. Bagaimana kita membahasnya?.

Kita mulai dari soal: apa yang sudah kita sumbangkan sebagai bentuk ukhuwah, solidaritas kepada dunia ?. Kepada kemanusiaan?. Terlepas dari filosofi yang sudah ada sejak dahulu kala. Apakah bentuk-bentuk, model, indikator solidaritas itu?. Apa yang melatarbelakanginya?. Anasir konflik bersenjata, bencana gempa&tsunami, dan intervensi ( luar ) pasca anasir tersebut ( emergency response ).

Beberapa solusi mari kita tawarkan bersama. Misal, apakah dalam proses pembangunan pasca konflik dan bencana, solidaritas, meuseuraya menjadi kebutuhan?. Atau memang benar, meuseuraya itu sudah terkubur oleh intervensi bala bantuan itu sendiri?. Atau karena kita sudah sangat lama didera konflik, lalu kemanusiaan kita abai terhadap gejala rentan disekeliling kita.

Tanyakan juga; apakah gampong-gampong tempat kelahiran kita, masih menikmati ( butuh ) solidaritas, meuseuraya untuk membangun kubah mesjid?. Atau katakanlah meuseuraya membersihkan tanah kuburan?. Atau jangan-jangan kita meuseuraya: Mengupah orang bersama-sama mengumpulkan rupiah, hanya untuk membersihkan tanah kuburan itu?. Entahlah. Seperti membuat timphan, darimanakah kita memulai ini semua?.


Banda Aceh, 10 November 2006
Ridwan H Mukhtar ( rumahkandang@yahoo.com )